PENGEMBANGAN MASYARAKAT



LANGKAH-LANGKAH PROSES TERBENTUKNYA MASYARAKAT
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Masyarakat
Dosen Pengampu : Bapak. Dwi Fitry Wiyono, S.Pd., M.Pd.I





Oleh :
                 Sayyidatuna Intan Mahmudah                 21501013064
                 Eka Wahyu Setyo rini                              21501013050


Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2019



KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tak lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW, semoga kelak kita digolongkan orang-orang yang mendapat pertolongannya.
Diharapkan makalah ini mampu membantu pembaca khususnya mahasiswa dalam menunjukkan langkah-langkah proses terbentuknya masyarakat.
Namun demikian penyusunan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak, untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu  kami menyadari sepenuhnya bahwa masih adanya kekurangan dari segi penyusunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami bisa memperbaiki makalah ini.


                              Malang, April 2019



                      Penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................................................. i

KATA PENGANTAR........................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI........................................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN 1
A.    LatarBelakang................................................................................................................................ 1
B.     RumusanMasalah.......................................................................................................................... 2
C.    Tujuan............................................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................................4
A.    Masyarakat......................................................................................................................................4
B.     Proses Terbentuknya Masyarakat............................................................................................... 4
C.    Langkah-langkah Proses Terbentuknya Masyarakat ............................................................... 5
BAB III KESIMPULAN ................................................................................................................... 10
D.    Kesimpulan .................................................................................................................................. 11
E.     Saran ............................................................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................... 12






BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Manusia adalah makluk sosial yang mana manusia tidak akan bisa hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Dikarenakan sifat manusia yang saling membutuhkan tersebut maka tanpa disadari terbentuklah sebuah kelompok yang dinamakan masyarakat, Hal itu terjadi akibat kecenderungan yang dimiliki manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan sendiri pada satu sisi dan berkelompok pada sisi lain, dan seseorang tidak tersendirikan dari yang lainnya dan lingkungannya karena ia memiliki keinginan kuat untuk hidup dalam komunitas sejak kelahirannya dan untuk itu disebut manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena manusia makhluk sosial maka ia memiliki keinginan untuk hidup berkelompok\bermasyarakat, (Soejono Soekanto 1990: 27).  Aristo berkata, sesungguhnya manusia adalah politicon zoon atau makhluk sosial yang menyukai kehidupan sosial yang menyukai kehidupan sosial atau mengadakan teman kehidupan, (Abu Ahmad 1989: 55).
Alvin L. Bertrand (1980) mendefinisikan bahwa masyarakat sebagai suatu kelompok yang sama identifikainya, teratur sedemikian rupa di dalam menjalankan segala sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara otomatis.
Merujuk pada perspektif terbentuknya masyarakat melalui “manusia” (antroposentris), ditemui bahwa pada mulanya individu yang berlainan jenis bertemu satu sama lain, kemudian membentuk keluarga. Lambat laun, entitas keluarga kian berkembang sehingga membentuk “keluarga besar” atau “suku”. Pada tahapan berikutnya, suku kian berkembang dan terbentuklah “wangsa”. Selanjutnya, wangsa-wangsa dengan ciri fisik dan kebudayaan yang sama membentuk “bangsa”. Tahapan termutakhir dari proses tersebut adalah lahirnya “negara-bangsa” sebagaimana kita temui saat ini, (Sidi Gazalba 1976: 65-68).
B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat kita ambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud Masyarakat ?
2.      Bagaimana proses terbentuknya Masyarakat ?
3.      Bagaimana langkah-langkah proses terbentuknya Masyarakat ?

C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.         Mendeskripsikan pengertian Masyarakat.
2.         Mendeskripsikan proses terbentuknya Mayarakat.
3.         Mendeskripsikan langkah-langkah proses terbentuknya Mayarakat.



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Masyarakat
Manusia adalah makluk sosial yang mana manusia tidak akan bisa hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Dikarenakan sifat manusia yang saling membutuhkan tersebut maka tanpa disadari terbentuklah sebuah kelompok yang dinamakan masyarakat, Hal itu terjadi akibat kecenderungan yang dimiliki manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan sendiri pada satu sisi dan berkelompok pada sisi lain, dan seseorang tidak tersendirikan dari yang lainnya dan lingkungannya karena ia memiliki keinginan kuat untuk hidup dalam komunitas sejak kelahirannya dan untuk itu disebut manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena manusia makhluk sosial maka ia memiliki keinginan untuk hidup berkelompok\bermasyarakat, (Soejono Soekanto 1990: 27).  Aristo berkata, sesungguhnya manusia adalah politicon zoon atau makhluk sosial yang menyukai kehidupan sosial yang menyukai kehidupan sosial atau mengadakan teman kehidupan, (Abu Ahmad 1989: 55).
Alvin L. Bertrand (1980) mendefinisikan bahwa masyarakat sebagai suatu kelompok yang sama identifikainya, teratur sedemikian rupa di dalam menjalankan segala sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara otomatis. Karl Mark memberikan definisi masyarakat sebagai suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.
Dari uraian dari beberapa ahli, dapat kita simpulkan bahwa pengertian masyarakat adalah sekelompok manusia/individu yang memiliki pemikiran perasaan bekerja sama untuk mengatur, mengorganisasikan,  dan mengikuti suatu cara hidup tertentu yang menghasilkan kebudayaan.  

1.         Ciri-Ciri Masyarakat
a.         Hidup berkelompok
b.        Saling Interaksi
c.         Mengalami perubahan
d.        Melahirkan kebudayaan
e.         Adanya pemimpin
f.         Terbentuknya stratifikasi sosial

2.         Unsur-Unsur Masyarakat
a.       Orang banyak
b.      Kelompok
c.       Perkumpulan
d.      Golongan

3.         Jenis-Jenis Masyarakat
a.         Masyarakat primitif
b.        Masyarakat modern
       
B.       Proses Terbentuknya Masyarakat
Dalam mempelajari proses terbentuknya masyarakat, perlu dilakukan analisis dari berbagi proses yang ada seperti proses belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi sosial, proses difusi, akulturasi, dan pembaruan serta inovasi.
1.         Proses belajar kebudayaan sendiri
a.         Proses internalisasi
Proses Internalisasi adalah proses yang panjang sejak individu tersebut dilahirkan hingga dipenujung ajalnya, dimana manusia atau individu tersebut belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala hasrat, perasaan, nafsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya. 
b.      Proses Sosialisasi
Proses Sosialisasi berhubungan dengan proses belajar kebudayaan dalam sistem sosial.
c.       Proses Enkulturasi “pembudayaan’
Individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.
2.         Proses evolusi sosial
          Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisis oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secara detail, atau dapat juga dipandang dari jauh hanya dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang besar saja.
3.         Proses difusi
Penyebaran Manusia. Ilmu Paleo antropologi memprediksi bahwa manusia muncul untuk pertama kali di daerah Sabana tropikal di Afrika Timur, dan kemudian, manusia sekarang ini telah menduduki hampir seluruh permukaan bumi ini. Hal ini dapat diterangkan dengan dengan adanya proses reproduksi dan gerakan  penyebaran atau migrasi-migrasi yang disertai dengan proses adaptasi fisik dan sosial budaya dan perkembangan teknologi transportasi.
4.         Proses akulturasi atau asimilasi
Pengertian akulturasi adalah sebuah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan demikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Asimilasi adalah Proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda.
5.         Proses pembaruan atau inovasi
Inovasi merupakan suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk baru
C.      Langkah-Langkah Proses Terbentuknya Masyarakat
Masyarakat juga tidak terbentuk secara langsung atau tiba-tiba, tapi masyarakat terbentuk melalui beberapa proses. Dalam mempelajari proses terbentuknya masyarkat, perlu dilakukan analisis dari berbagi proses yang ada seperti proses belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi sosial, proses difusi, akulturasi, dan pembaruan serta inovasi.
Perdebatan terbentuknya masyarakat telah berlangsung semenjak era Plato. Kala itu, Plato yang berkeyakinan bahwa masyarakat terbentuk secara kodrati, berseberang-pandang dengan kaum sofis yang berargumen bahwa masyarakat merupakan bentukan manusia,  (Richard Harker 2005: 17). Dapatlah ditilik, pandangan Plato lebih bersifat metafisik dan mengawang, sedang kaum sofis ilmiah-rasional.
Menurut Kimmel dan Aronson, maksud dari kumpulan individu dan lembaga yang terorganisir adalah, masyarakat bukan merupakan kumpulan acak melainkan kumpulan yang sengaja dibentuk serta diorganisir. Masyarakat tidak hanya terdiri atas individu, melainkan juga lembaga-lembaga seperti keluarga, agama, pendidikan, atau perekonomian. Masyarakat dibatasi oleh satu wilayah yang sama, yang berarti masyarakat sungguh-sungguh menempati suatu tempat, memiliki eksistensi nyata, bukan sebuah gagasan imajinatif.
Berdasarkan adanya proses terbentuknya masyarakat dapat ditunjukkan beberapa langkah-langkah atau tahapan-tahapan proses terbentuknya masyarakat yaitu sebagai berikut :
1.         Manusia atau (antroposentris), ditemui bahwa pada mulanya individu yang berlainan jenis bertemu satu sama lain. Di permukaan bumi hanya ada satu manusia berjenis kelamin laki-laki dan satu manusia dengan berjenis kelamin perempuan, dan mereka saling bertemu satu sama lain.
2.         Kemudian terbentuklah keluarga, hal tersebut terjadi akibat kecenderungan yang dimiliki manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya, dari terbentuknya sebuah keluarga yaitu pertama pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang kemudian berhubungan dengan tujuan memperoleh keturunan, selanjutnya akan terbentuk sebuah keluarga kecil.
3.         Lambat laun, entitas keluarga kian berkembang sehingga membentuk “keluarga besar” atau “suku”. Suku adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Menurut Frederick Barth suku adalah himpunan manusia yang memiliki atau mempunyai kesamaan dari segi ras, agama, asal-usul bangsa, juga sama-sama terikat di dalam nilai kebudayaan tertentu.
4.         Pada langkah berikutnya, suku kian berkembang dan terbentuklah “wangsa”. Wangsa berarti dinasti, atau kelanjutan kekuasaan pemerintahan yang dipegang oleh satu garis keturunan (keluarga yang sama). Dalam sejarah Indonesia banyak Kerajaan di bumi nusantara yang berasal dari satu garis keturunan yang sama, misalnya wangsa Sailendra pada Kerajaan Mataram Kuno, Wangsa Bendahara pada Kesultanan Johor dan Kesultanan Riau-Lingga.
5.         Langkah selanjutnya, wangsa-wangsa dengan ciri fisik dan kebudayaan yang sama   membentuk “bangsa”. Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap Nasional memiliki identitas bersama, dan mmpunyai kesamaan bahasa, ideologi, budaya, sejarah, dan tujuan yang sama. Mereka umumnya dianggap memiliki asal usul keturunan yang sama.
6.         Tahapan termutakhir dari proses tersebut adalah lahirnya “negara-bangsa” sebagaimana kita temui saat ini. Negara bangsa ialah satu konsep atau bentuk kenegaraan yang memperoleh pengesahan politiknya dengan menjadi sebuah entiti berdaulat bagi satu-satu bangsa sebagai sebuah (unit) wilayah yang berdaulat. “Negara” (atau negeri) ialah entiti politik dan geopolitik, manakala “bangsa” ialah entiti budaya dan/atau etnik. Istilah “negara bangsa” menandakan bahwa kedua-duanya (negara dan bangsa) sebagai sama, dan ini membesarkannya dengan bentuk kenegaraan yang lain, yang telah wujud sebelumnya. Jika berjaya dilaksanakan, ia menandakan bahwa rakyatnya berkongsi satu bahasa, budaya dan nilai yang bukan merupakan ciri-ciri negara yang telah wujud sebelumnya.
Berdasarkan Sidi Gazalba (1976: 65-68) menyatakan bahwa merujuk pada perspektif terbentuknya masyarakat melalui “manusia” (antroposentris), ditemui bahwa pada mulanya individu yang berlainan jenis bertemu satu sama lain, kemudian membentuk keluarga. Lambat laun, entitas keluarga kian berkembang sehingga membentuk “keluarga besar” atau “suku”. Pada tahapan berikutnya, suku kian berkembang dan terbentuklah “wangsa”. Selanjutnya, wangsa-wangsa dengan ciri fisik dan kebudayaan yang sama membentuk “bangsa”. Tahapan termutakhir dari proses tersebut adalah lahirnya “negara-bangsa” sebagaimana kita temui saat ini.




BAB III
KESIMPULAN
1.      Kesimpulan
Masyarakat adalah sekelompok manusia/individu yang memiliki pemikiran perasaan bekerja sama untuk mengatur, mengorganisasikan,  dan mengikuti suatu cara hidup tertentu yang menghasilkan kebudayaan.
Masyarakat memiliki beberapa ciri, yaitu hidup berkelompok, saling interaksi, mengalami perubahan, melahirkan kebudayaan, adanya pemimpin, dan terbentuknya stratifikasi sosial. Unsur-unsur yang dimiliki masyarakat adalah orang banyak, kelompok, perkumpulan, golongan. Ada 2 macam jenis masyarakat, yaitu: masyarakat primitif dan masyarakat modern.Masyarakat terbentuk melalui beberapa proses, yaitu proses  belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi sosial, proses difusi, akulturasi, dan pembaruan serta inovasi dan juga proses pendekatan interaksi.
Merujuk pada perspektif terbentuknya masyarakat melalui “manusia” (antroposentris), ditemui bahwa pada mulanya individu yang berlainan jenis bertemu satu sama lain, kemudian membentuk keluarga. Lambat laun, entitas keluarga kian berkembang sehingga membentuk “keluarga besar” atau “suku”. Pada tahapan berikutnya, suku kian berkembang dan terbentuklah “wangsa”. Selanjutnya, wangsa-wangsa dengan ciri fisik dan kebudayaan yang sama membentuk “bangsa”. Tahapan termutakhir dari proses tersebut adalah lahirnya “negara-bangsa” sebagaimana kita temui saat ini.

2.      Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah dijelaskan






DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Abu. 989.  Pengantar Sosiologi. Solo: Ramadhan.
Arifin Nor H.M. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Pustaka Setia. 
Cohen Bruce J. 1983. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Bina Aksara.  
Gazalba Sidi. 1976. Masyarakat Islam: Pengantar Sosiologi & Sosiografi. Jakarta: Bulan Bintang.
Harker Richard. 2005. (Habitus X Modal) + Ranah = Praktek. Yogyakarta: Jalasutra.
Soekamto Soejono. 1990.  Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.


                                                      CR - 057 : Eka Wahyu Setyo Rini




Komentar

Postingan Populer