MODEL DAN TAHAPAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT




MODEL DAN TAHAPAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT KAITANNYA DENGAN PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Masyarakat
Dosen Pengampu : Bapak. Dwi Fitry Wiyono, S.Pd., M.Pd.I





Oleh :
                   Sayyidatuna Intan Mahmudah                 21501013064
                   Eka Wahyu Setyo rini                              21501013050

Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2019



KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tak lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW, semoga kelak kita digolongkan orang-orang yang mendapat pertolongannya.
Diharapkan makalah ini mampu membantu pembaca khususnya mahasiswa mampu menjelaskan model dan tahapan pengembangan masyarakat kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Namun demikian penyusunan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak, untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu  kami menyadari sepenuhnya bahwa masih adanya kekurangan dari segi penyusunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami bisa memperbaiki makalah ini.


                                     Malang, April 2019



                                     Penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................................i
KATA PENGANTAR ...........................................................................................................................ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................................... 1
A.    Latar Belakang ...............................................................................................................................1
B.     Rumusan Masalah .........................................................................................................................2
C.    Tujuan ............................................................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................................4
A.    Pengembangan Masyarakat ..........................................................................................................4
B.     Model Pengembangan Masyarakat .............................................................................................4
C.    Tahapan Pengembangan Masyarakat ..........................................................................................5
D.    Model dan Tahapan Pengembangan Masyarakat Untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan.5

BAB III KESIMPULAN ....................................................................................................................10
E.     Kesimpulan .................................................................................................................................. 11
F.     Saran ..............................................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................................12






BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pengembangan masyarakat sebagai metode pekerjaan sosial dalam membangun pemberdayaan masyarakat menjadi aternatif dalam program dan orientasi pembangunan dewasa ini. Mencuatnya model pembangunan yang berbasis komunitas ini merupakan reorientasi dan perubahan paradigma pembangunan dari ekonomi sebagai sentral (capital centered development) kepada manusia sebagai pusat utama pembangunan (people centered development).
Manusia adalah makluk sosial yang mana manusia tidak akan bisa hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Dikarenakan sifat manusia yang saling membutuhkan tersebut maka tanpa disadari terbentuklah sebuah kelompok yang dinamakan masyarakat, Hal itu terjadi akibat kecenderungan yang dimiliki manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan sendiri pada satu sisi dan berkelompok pada sisi lain, dan seseorang tidak tersendirikan dari yang lainnya dan lingkungannya karena ia memiliki keinginan kuat untuk hidup dalam komunitas sejak kelahirannya dan untuk itu disebut manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena manusia makhluk sosial maka ia memiliki keinginan untuk hidup berkelompok\bermasyarakat, (Soejono Soekanto 1990: 27).  Aristo berkata, sesungguhnya manusia adalah politicon zoon atau makhluk sosial yang menyukai kehidupan sosial yang menyukai kehidupan sosial atau mengadakan teman kehidupan, (Abu Ahmad 1989: 55). Alvin L. Bertrand (1980) mendefinisikan bahwa masyarakat sebagai suatu kelompok yang sama identifikainya, teratur sedemikian rupa di dalam menjalankan segala sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara otomatis.
Pembangunan berpusat pada rakyat meliputi pendekatan, metode dan teknik-teknik sosial mengutamakan bentuk-bentuk kelompok dan swadaya masyarakat. Dalam mencapai pembangunan yang berpusat pada rakyat diperlukan sebuah perubahan pada (1) pemikiran dan kebijakan pemerintah berkaitan dengan penciptaan keadaan yang mampu mendorong dan mendukung usaha-usaha masyarakat memenuhi kebutuhannya baik tingkat individual, keluarga dan komunitas, (2) pengembangan struktur dan proses organisasi masyarakat yang berfungsi berdasarkan kaidah-kaidah yang mandiri, (3) pengembangan sistim produksi-konsumsi berlandaskan kaidah kepemilikan dan pengendalian komunitas lokal (Nadian 2010).
Perubahan paradigma pembangunan yang berpusat pada produksi kepada paradigma yang berpusat pada rakyat, berarti perubahan ideologi kebijakan pembangunan dan pengembangan kelembagaan di tingkat nasional, lokal dan komunitas. Paradigma berpusat pada rakyat merujuk kepada pelaksanaan prinsip-prinsip desenteralisasi, partisipasi, pemberdayaan, pelestarian, jejaring sosial, kswadayaan lokal, dan keberlanjutan. Sehingga paradigma pembangunan memberikan kesempatan pengembangan masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat selaku aktor dan pusat pembangunan itu sendiri.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat kita ambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud pengembangan Masyarakat ?
2.      Bagaimana model dan tahapan pengembangan Masyarakat kaitannya dengan peningkatan Pendidikan ?

C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.         Mendeskripsikan pengertian pengembangan Masyarakat.
2.        Mendeskripsikan model dan tahapan pengembangan Masyarakat kaitannya dengan peningkatan kualitas Pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat distilahkan dengan community development, merupakan konsep dasar dari berbagai istilah seperti community resource development, rural areas development, community economic development, rural revitalisation, dan community based development. Konsep dasar “community” berarti kualitas hubungan sosial dan “development” sebagai perubahan yang dilakukan secara terencana dan gradual (Nadian 2014).
Begitupun Mayo, melihat pengembangan masyarakat terdiri dari kata “pengembangan” dan “masyarakat”. Kata pengembangan atau pembangunan merujuk kepada usaha bersama dan terencana dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Sedangkan kata masyarakat berarti sekelompok orang dalam geografis yang sama dan kesamaan kepentingan atas budaya dan identitas. Pengembangan masyarakat adalah salah satu metode dalam diskursus pekerjaan sosial yang memfokuskan kepada peningkatan kualitas hidup masyarakat pada geografis tertentu dan menekankan partisipasi sosial (dalam Suharto 2010).
Manusia adalah makluk sosial yang mana manusia tidak akan bisa hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Dikarenakan sifat manusia yang saling membutuhkan tersebut maka tanpa disadari terbentuklah sebuah kelompok yang dinamakan masyarakat, Hal itu terjadi akibat kecenderungan yang dimiliki manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan sendiri pada satu sisi dan berkelompok pada sisi lain, dan seseorang tidak tersendirikan dari yang lainnya dan lingkungannya karena ia memiliki keinginan kuat untuk hidup dalam komunitas sejak kelahirannya dan untuk itu disebut manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena manusia makhluk sosial maka ia memiliki keinginan untuk hidup berkelompok\bermasyarakat, (Soejono Soekanto 1990: 27).  Aristo berkata, sesungguhnya manusia adalah politicon zoon atau makhluk sosial yang menyukai kehidupan sosial yang menyukai kehidupan sosial atau mengadakan teman kehidupan, (Abu Ahmad 1989: 55). Alvin L. Bertrand (1980) mendefinisikan bahwa masyarakat sebagai suatu kelompok yang sama identifikainya, teratur sedemikian rupa di dalam menjalankan segala sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara otomatis. Karl Mark memberikan definisi masyarakat sebagai suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.
Partisipasi sebagai proses aktif, inisiatif diambil oleh masyarakat sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana dan proses  kontrol secara efektif. Partisipasi masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan pemberdayaan masyarakat, karena pemberdayaan masyarakat merupakan jalan utama partisipasi sosial. (dalam Nasdian 2014). Pekerjaan sosial merupakan aktifitas kemanusiaan yang yang menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya kepada masyarakat lemah dan kurang beruntung seperti orang miskin, orang dengan kecacatan dan komunitas adat terpencil (Suharto 2010).
Penerapan pengembangan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelayanan sosial kepada masyarakat yang kurang beruntung atau tertindas. Pelayanan masyarakat dalam pengembangan masyarakat lebih berorientasi kepada pemberdayaan atas pengguna pelayanan masyarakat. Pengembangan masyarakat dilakukan dalam bentuk program-program pembangunan pekerjaan sosial yang memfasilitasi masyarakat mendapatkan dukungan dalam pemenuhan kebutuhannya dan aksi sosial yang mendorong pemenuhan kebutuhan masyarakat mampu dipenuhi oleh kelompok yang bertanggung jawab.
Pengembangan masyarakat yang berorientasi pemberdayaan tidak hanya dilakukan unit-unit kepemerintahan dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan sosial tetapi juga pihak korporasi sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Pengembangan masyarakat dalam korporasi biasanya dilakukan dengan program corporate social responsibility sebagai peran pekerjaan sosial korporasi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dilingkungannya (Suharto 2007).

B.       Model Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat menurut Mayo, dibangun berdasarkan dua perspektif, yakni perspektif profesional dan radikal. Perspektif profesional menitikberatkan pada usaha meningkatkan kemandirian dan memperbaiki sistem pemberian pelayanan dalam kerangka relasi-relasi sosial. Berbeda dengan pendekatan radikal yang berfokus pada upaya mengubah ketidakseimbangan relasi-relasi sosial melalui pemberdayaan kelompok lemah, mencari sebab kelemahannya dan menganalisis sumber ketertindasannya. Perspektif profesional bermatra tradisonal, netral dan teknikal. Sedangkan perspektif radikal bermatra transformasional. Jack Rothman mengemukakan model-model pengembangan masyarakat meliputi :  
1.      Model pengembangan masyarakat lokal (locality development),
2.      Perencanaan sosial (social planning),
3.      Aksi sosial (social action). Mengacu pada perspektif pengembangan masyarakat yang dikembangkan Mayo, maka pengembangan masyarakat lokal dan perencanan sosial masuk dalam perspektif profesional. Sedangkan aksi sosial termasuk perspektif radikal (dalam Suharto 2010).
Tabel 1. Perspektif dan Model Pengembangan Masyarakat

Perspektif
Model
Tujuan / asumsi
Profesional
(Tradisional, teknikal dan netral)
§ Pengembangan masyarakat lokal
§ Perencanaan sosial
§ Meningkatkan inisiatif dan kemandirian masyarakat
§ Memperbaiki pelayanan sosial dalam kerangka relasi sosial yang ada
Radikal (transformasional)
§ Aksi sosial
§ Meningkatkan kesadaran dan inisiatif masyarakat
§ Memberdayakan masyarakat guna mencari akar penyebab ketertindasan dan diskriminasi
§ Mengembangkan strategi dan membangun kerjasama dalam melakukan perubahan sosial sebagai bagian dari upaya mengubah relasi sosial yang menindas, diskriminatif dan eksploitatif.
Sumber : dikembangkan dari Suharto (2010).

Model pengembangan masyarakat lokal adalah sebuah proses yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat melalui partsipasi dan inisiatif anggota masyarakat. Pekerja sosial membantu meningkatkan kesadaran dan mengembangkan kemampuan mereka dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Model ini berorientasi pada tujuan proses (process goal) dari pada tujuan tugas atau tujuan hasil.setiap anggota masyarakat bertanggung jawab dalam menentukan tujuan dan strategi untuk mencapai tujuan bersama. Proses pengembangan masyarakat lokal berbasis bottom up yang dibentuk dari pengembangan kepemimpinan lokal, peningkatan startegi kemandirian, peningkatan informasi, komunikasi, relasi dan keterlibatan anggota masyarakat. Atau kegiatan yang berorientasi pada proses, tujuannya adalah memberikan pengalaman belajar pada masyarakat, menekankan pentingnya konsesnsus/ kesepakatan, kerjasama, membangun identitas, kepedulian dan kebanggaan sebagai anggota masyarakat. Proses pengorganisasian masyarakat dapat optimal jika adanya partisipasi masyarakat dalam menempatkan tujuan dan pelaksanaan tindakan.
Model perencanaan sosial adalah sebuah proses pragmatis yang dilakukan dalam menentukan keputusan dan tindakan dalam memecahkan masalah sosial tertentu seperti kemiskinan, pengangguran kenakalan remaja, buta huruf, kesehatan yang buruk dan sebagainya. Perencanaan sosial berorientasi pada tujuan tugas (task goal). Pekerja sosial berperan sebagai perencana sosial yang memandang angota masyarakat yang memiliki masalah sosial sebagai konsumen atau penerima layanan.
Penerima pelayanan dalam model ini dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan, penentuan tujuan, dan pemecahan masalah tetapi tidak dalam posisi utama karena sejatinya pengambilan keputusan dilakukan oleh para pekerja sosial di lembaga formal baik pemerintah, swasta ataupun lembaga swadaya masyarakat. Sehingga perencana sosial dinilai sebagai seorang yang ahli dalam melakukan penelitian, menganalisis masalah, dan kebutuhan masyarakat, serta dalam mengidentifikasi, melaksanakan dan mengevaluasi program pelayanan kemanusiaan.
Model aksi sosial adalah proses perubahan-perubahan fundamental dalam kelembagaan dan struktur masyarakat melalui distribusi kekuasaan (distribution of power), distribusi sumber (distribution of source), dan pengambilan keputusan (distribution of decision making). Model ini dibangun dari asumsi bahwa masyarakat adalah sistem klien yang menjadi korban ketidakadilan dalam struktur sosial. Kemiskinan anggota masyarakat bukanlah karena anggota masyarakatnya melainkan karena dimiskinkan secara sistim dan struktur, tidak berdaya karena tidak diberdayakan oleh sekelompok orang yang menguasai sumber ekonomi, politik dan kemasyarakatan. Model ini adalah kegiatan yang mempunyai tujuan mengadakan perubahan menasar pada lembaga kemasyarakatan. Sasaran utamanya adalah penataan kembali struktur kekuasaan, sumber-sumber dan proses pengambilan keputusan.

Kelemahannya :
1.        Locally Development, sulitnya mendapatkan dukungan/ partisipasi apabila bukan berasal dari wilayah geografis yang sama.
2.        Sosial planning, membutuhkan tenaga ahli teknis dari luar, membuat masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah.

Model ini berorientasi pada tujuan proses dan tujuan hasil. Pengembangan masyarakat dilakukan melalui penyadaran, pemberdayaan dan tindakan aktual yang mampu mengubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip demokrasi, pemerataan (equality) dan keadilan (equity).

C.      Tahapan Pengembangan Masyarakat Kaitannya dengan Peningkatan Kualitas Pendidikan
Sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui :
a.              Tahapan persiapan : Dialami sejak manusia dilahirkan Maksudnya seseorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru.
b.             Tahapan meniru : Ditandai dengan semakin cocok atau tepat seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa orang tuanya, saudaranya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu.
c.              Tahapan Bertindak : Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama.
d.             Tahapan Penerima : Seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada masyarakat secara laus.. Dia dapat bertenggang rasa, tidak hanya dengan orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat secara luas.

Dalam pengembangan masyarakat pasti memiliki beberapa tahapan-tahapan yang di lakukan. Tahapan pengembangan masyarakat meliputi :
1.             Tahap Persiapan Persiapan Petugas: Menyamakan persepsi antar anggota tim sebagai pelaku perubahan (changeagent) tentang konsep dan metode yang akandigunakan. Dilakukan pelatihan dan diskusikelompok petugas Persiapan Lapangan: Menentukan lokasi/komunitas sasaran. Memenuhi persyaratanformal seperti perizinan ke pimpinanformal/pemerintah. Pendekatan dengan tokoh-tokohmasyarakat (stake holders).
2.             Tahap Assessment Pengindetifikasian masalah (kebutuhan yangdirasakan) Masyarakat dan potensi/modal masyarakat. Serta melakukan penilaian denganteknik SWOT atau metode assessment PRECEDE-PROCEED Cara yang dapat ditempuh: melakukan in-depth interview, wawancara individu, survey, Diskusi kelompok terarah (FGD).
3.             Tahap Perencanaan Alternatif Program Mendiskusikan dengan masyarakat tentang permasalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara untuk mengatasinya. Menstimulus pesertauntuk mengusulkan berbagai alternatif cara yang mungkin bisa ditempuh untuk mengatasi masalah.
4.             Tahap Formulasi Rencana Aksi Menentukan program atau kegiatan yang dipilih/disepakati dari berbagai alternatif yang ada dengan pertimbangan prioritas.Pada tahap ini jika diperlukan membuat proposalmaka pelaku perubahan dapat memfasilatasi dan membantu peserta dalam penyusunan dan pengajuan proposal. Pada tahap ini sebisa mungkin sudah dapat memberikan gagasan tentang tujuan jangka pendek yang akan dicapai.
5.             Tahap Pelaksanaan Program Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah disusun pada formulasi rencana aksi. Jika nanti dalam proses pelaksanaan diperlukansuatu perubahan maka harus dengan kesadaran dan kesepakatan para peserta.
6.             Tahap Evaluasi Proses dan Hasil Perubahan Mengukur perkembangan dan menilai hasil yang diperoleh berdasarkan indikator yang telah ditetapkan. Hasil penilaian kemudian digunakan untuk memperbaiki program. Apakah peserta benar-benar melakukan tugasnya?Apakah kegiatan atau cara yang ditempuh sesuai/relevan? Apakah program dapat dijangkau pihak-pihak yang membutuhkan? Apakah program yang dibuat benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan masyarakat? Apakah sudah sesuai dengan proporsi kebutuhan? Seberapa banyak upaya yang telah dilakukan untuk memaksimalkan hasil? Efisien atau tidak? dampaknya bagaimana?.
7.             Tahap Terminasi Perpisahan secara formal dengan sasaran. Ada dua alasannya: jika tujuan sudah tercapai atau jika masa program memang sudah berakhir. Hubungan secara informal biasanya tetap dilakukan .
Resosialisasi adalah proses pemberian kepribadian baru kepada seseorang. Contoh : proses pemasyarakatan yang dialami para penghuni penjara, rumah sakit jiwa, dan pendidikan militer. Seorang yang semula bebas, karena melakukan pelanggaran hukum kemudian dipenjara. Di penjara inilah terjadi proses pembentukan kepribadian baru. Segala gerak-geriknya, cara berpakaian, waktu tidur, waktu makan, dan aktivitas lainnya tidak lagi dapat dilakukan secara bebas. Semua diatur berdasarkan norma penjara yang ketat dan tidak memberikan kebebasan. Demikian juga, para peserta pendidikan dan pelatihan militer serta pasien rumah sakit jiwa. Semuanya harus mengalami proses penyesuaian nilai dan norma baru secara total.






BAB III

KESIMPULAN
1.      Kesimpulan
Pengembangan masyarakat berasal dari konsep dasar “community” berarti kualitas hubungan sosial dan “development” sebagai perubahan yang dilakukan secara terencana dan gradual. Pada tahun 1957, PBB memutuskan 10 prinsip-prinsip dasar pengembangan masyarakat yang bisa diterapkan di seluruh dunia. Berbagai pendekatan pengembangan masyarakat dilakukan sebagai upaya mencapai keberhasilan tujuan pengembangan masyarakat.
Model-model pengembangan masyarakat terdiri dari model pengembangan masyarakat lokal, perencanaan sosial dan aksi sosial. Model pengembangan masyarakat lokal dan perencanaan sosial termasuk dalam perspektif profesional dalam pengembangan masyarakat. Sedangkan model aksi sosial termasuk dalam perspektif radikal.
Dalam pengembangan masyarakat pasti memiliki beberapa tahapan-tahapan yang di lakukan. Tahapan pengembangan masyarakat meliputi : Tahap Persiapan Persiapan Petugas, Tahap Assessment Pengindetifikasian masalah (kebutuhan yangdirasakan), Tahap Perencanaan Alternatif Program Mendiskusikan dengan masyarakat, Tahap Formulasi Rencana Aksi Menentukan program, Tahap Pelaksanaan Program Melaksanakan,  Tahap Evaluasi Proses dan Hasil Perubahan, Tahap Terminasi Perpisahan secara formal dengan sasaran.

2.      Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah dijelaskan





DAFTAR PUSTAKA

Soekamto Soejono. 1990.  Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.
Ahmad Abu. 989.  Pengantar Sosiologi. Solo: Ramadhan.
Harker Richard. 2005. (Habitus X Modal) + Ranah = Praktek. Yogyakarta: Jalasutra.
Moemeka, A.A. 1989. Perspectives on Development Communication. Africa Media Review.Vol. 3, No.3, pp. 1-24.
Nasdian, FT. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta : Kerjasama Dep. Sains KPM IPB dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Suharto, Edi. 2010. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat : Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung : Refika Aditama.
Susanto, A. S., 1977,  Komunikasi Kontemporer, Bandung: Bina Cipta.
Arifin Nor H.M. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Pustaka Setia.

                                                        CR - 057 : Eka Wahyu Setyo Rini

Komentar

Postingan Populer