MODEL DAN TAHAPAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
MODEL DAN TAHAPAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT KAITANNYA DENGAN
PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Masyarakat
Dosen Pengampu : Bapak. Dwi Fitry Wiyono, S.Pd., M.Pd.I
Oleh :
Sayyidatuna Intan Mahmudah 21501013064
Eka Wahyu Setyo rini 21501013050
Prodi
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM MALANG
2019
KATA PENGANTAR
Dengan
mengucap rasa syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
karunianya sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tak lupa
sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad
SAW, semoga kelak kita digolongkan orang-orang yang mendapat pertolongannya.
Diharapkan
makalah ini mampu membantu pembaca khususnya mahasiswa mampu menjelaskan model
dan tahapan pengembangan masyarakat kaitannya dengan peningkatan kualitas
pendidikan.
Namun
demikian penyusunan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari
beberapa pihak, untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas
dari semua itu kami menyadari sepenuhnya
bahwa masih adanya kekurangan dari segi penyusunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan
kritik dari pembaca agar kami bisa memperbaiki makalah ini.
Malang, April 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
.............................................................................................................................i
KATA PENGANTAR
...........................................................................................................................ii
DAFTAR ISI
....................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
.................................................................................................................... 1
A.
Latar Belakang
...............................................................................................................................1
B.
Rumusan Masalah
.........................................................................................................................2
C.
Tujuan
............................................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
......................................................................................................................4
A.
Pengembangan Masyarakat
..........................................................................................................4
B.
Model Pengembangan Masyarakat
.............................................................................................4
C.
Tahapan Pengembangan Masyarakat
..........................................................................................5
D.
Model dan Tahapan Pengembangan Masyarakat Untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan.5
BAB III KESIMPULAN
....................................................................................................................10
E.
Kesimpulan
.................................................................................................................................. 11
F.
Saran
..............................................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA
..........................................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengembangan masyarakat sebagai metode
pekerjaan sosial dalam membangun pemberdayaan masyarakat menjadi aternatif
dalam program dan orientasi pembangunan dewasa ini. Mencuatnya model
pembangunan yang berbasis komunitas ini merupakan reorientasi dan perubahan
paradigma pembangunan dari ekonomi sebagai sentral (capital centered
development) kepada manusia sebagai pusat utama pembangunan (people centered
development).
Manusia adalah makluk sosial yang mana
manusia tidak akan bisa hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan dari
manusia lainnya. Dikarenakan sifat manusia yang saling membutuhkan tersebut
maka tanpa disadari terbentuklah sebuah kelompok yang dinamakan masyarakat, Hal
itu terjadi akibat kecenderungan yang dimiliki manusia untuk berinteraksi
dengan manusia lainnya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan sendiri pada
satu sisi dan berkelompok pada sisi lain, dan seseorang tidak tersendirikan
dari yang lainnya dan lingkungannya karena ia memiliki keinginan kuat untuk
hidup dalam komunitas sejak kelahirannya dan untuk itu disebut manusia sebagai
makhluk sosial. Oleh karena manusia makhluk sosial maka ia memiliki keinginan
untuk hidup berkelompok\bermasyarakat, (Soejono Soekanto 1990: 27). Aristo berkata, sesungguhnya manusia adalah
politicon zoon atau makhluk sosial yang menyukai kehidupan sosial yang menyukai
kehidupan sosial atau mengadakan teman kehidupan, (Abu Ahmad 1989: 55). Alvin
L. Bertrand (1980) mendefinisikan bahwa masyarakat sebagai suatu kelompok yang
sama identifikainya, teratur sedemikian rupa di dalam menjalankan segala
sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara otomatis.
Pembangunan berpusat pada
rakyat meliputi pendekatan, metode dan teknik-teknik sosial mengutamakan
bentuk-bentuk kelompok dan swadaya masyarakat. Dalam mencapai pembangunan yang
berpusat pada rakyat diperlukan sebuah perubahan pada (1) pemikiran dan
kebijakan pemerintah berkaitan dengan penciptaan keadaan yang mampu mendorong
dan mendukung usaha-usaha masyarakat memenuhi kebutuhannya baik tingkat
individual, keluarga dan komunitas, (2) pengembangan struktur dan proses organisasi
masyarakat yang berfungsi berdasarkan kaidah-kaidah yang mandiri, (3)
pengembangan sistim produksi-konsumsi berlandaskan kaidah kepemilikan dan
pengendalian komunitas lokal (Nadian 2010).
Perubahan paradigma
pembangunan yang berpusat pada produksi kepada paradigma yang berpusat pada
rakyat, berarti perubahan ideologi kebijakan pembangunan dan pengembangan
kelembagaan di tingkat nasional, lokal dan komunitas. Paradigma berpusat pada
rakyat merujuk kepada pelaksanaan prinsip-prinsip desenteralisasi, partisipasi,
pemberdayaan, pelestarian, jejaring sosial, kswadayaan lokal, dan
keberlanjutan. Sehingga paradigma pembangunan memberikan kesempatan
pengembangan masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat selaku aktor dan
pusat pembangunan itu sendiri.
B.
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas, dapat kita ambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa
yang dimaksud pengembangan Masyarakat ?
2. Bagaimana model dan tahapan pengembangan Masyarakat kaitannya
dengan peningkatan Pendidikan ?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan
masalah yang telah disampaikan diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini
adalah:
1.
Mendeskripsikan pengertian pengembangan Masyarakat.
2. Mendeskripsikan
model dan tahapan pengembangan Masyarakat kaitannya dengan peningkatan kualitas
Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat distilahkan dengan community development, merupakan konsep
dasar dari berbagai istilah seperti community
resource development, rural areas development, community economic development,
rural revitalisation, dan community based development. Konsep dasar
“community” berarti kualitas hubungan sosial dan “development” sebagai
perubahan yang dilakukan secara terencana dan gradual (Nadian 2014).
Begitupun Mayo, melihat pengembangan masyarakat terdiri dari
kata “pengembangan” dan “masyarakat”. Kata pengembangan atau pembangunan
merujuk kepada usaha bersama dan terencana dalam meningkatkan kualitas hidup
manusia. Sedangkan kata masyarakat berarti sekelompok orang dalam geografis
yang sama dan kesamaan kepentingan atas budaya dan identitas. Pengembangan
masyarakat adalah salah satu metode dalam diskursus pekerjaan sosial yang
memfokuskan kepada peningkatan kualitas hidup masyarakat pada geografis
tertentu dan menekankan partisipasi sosial (dalam Suharto 2010).
Manusia adalah makluk sosial yang mana manusia tidak akan bisa
hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan dari manusia lainnya.
Dikarenakan sifat manusia yang saling membutuhkan tersebut maka tanpa disadari
terbentuklah sebuah kelompok yang dinamakan masyarakat, Hal itu terjadi akibat
kecenderungan yang dimiliki manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan sendiri pada satu sisi dan
berkelompok pada sisi lain, dan seseorang tidak tersendirikan dari yang lainnya
dan lingkungannya karena ia memiliki keinginan kuat untuk hidup dalam komunitas
sejak kelahirannya dan untuk itu disebut manusia sebagai makhluk sosial. Oleh
karena manusia makhluk sosial maka ia memiliki keinginan untuk hidup
berkelompok\bermasyarakat, (Soejono Soekanto 1990: 27). Aristo berkata, sesungguhnya manusia adalah
politicon zoon atau makhluk sosial yang menyukai kehidupan sosial yang menyukai
kehidupan sosial atau mengadakan teman kehidupan, (Abu Ahmad 1989: 55). Alvin
L. Bertrand (1980) mendefinisikan bahwa masyarakat sebagai suatu kelompok yang
sama identifikainya, teratur sedemikian rupa di dalam menjalankan segala
sesuatu yang diperlukan bagi hidup bersama secara otomatis. Karl Mark
memberikan definisi masyarakat sebagai suatu struktur yang menderita ketegangan
organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara
kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.
Partisipasi sebagai proses aktif, inisiatif diambil oleh masyarakat
sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana
dan proses kontrol secara efektif.
Partisipasi masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan pemberdayaan masyarakat,
karena pemberdayaan masyarakat merupakan jalan utama partisipasi sosial. (dalam
Nasdian 2014). Pekerjaan sosial merupakan aktifitas kemanusiaan yang yang
menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya kepada masyarakat lemah
dan kurang beruntung seperti orang miskin, orang dengan kecacatan dan komunitas
adat terpencil (Suharto 2010).
Penerapan pengembangan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelayanan
sosial kepada masyarakat yang kurang beruntung atau tertindas. Pelayanan
masyarakat dalam pengembangan masyarakat lebih berorientasi kepada pemberdayaan
atas pengguna pelayanan masyarakat. Pengembangan masyarakat dilakukan dalam
bentuk program-program pembangunan pekerjaan sosial yang memfasilitasi
masyarakat mendapatkan dukungan dalam pemenuhan kebutuhannya dan aksi sosial
yang mendorong pemenuhan kebutuhan masyarakat mampu dipenuhi oleh kelompok yang
bertanggung jawab.
Pengembangan masyarakat yang berorientasi pemberdayaan tidak hanya
dilakukan unit-unit kepemerintahan dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam
memberikan pelayanan sosial tetapi juga pihak korporasi sebagai bentuk tanggung
jawab sosial. Pengembangan masyarakat dalam korporasi biasanya dilakukan dengan
program corporate social responsibility sebagai peran pekerjaan sosial
korporasi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dilingkungannya (Suharto
2007).
B.
Model Pengembangan Masyarakat
Pengembangan
masyarakat menurut Mayo, dibangun berdasarkan dua perspektif, yakni perspektif
profesional dan radikal. Perspektif profesional menitikberatkan pada usaha
meningkatkan kemandirian dan memperbaiki sistem pemberian pelayanan dalam
kerangka relasi-relasi sosial. Berbeda dengan pendekatan radikal yang berfokus
pada upaya mengubah ketidakseimbangan relasi-relasi sosial melalui pemberdayaan
kelompok lemah, mencari sebab kelemahannya dan menganalisis sumber
ketertindasannya. Perspektif profesional bermatra tradisonal, netral dan
teknikal. Sedangkan perspektif radikal bermatra transformasional. Jack Rothman
mengemukakan model-model pengembangan masyarakat meliputi :
1.
Model pengembangan masyarakat lokal (locality development),
2.
Perencanaan sosial (social planning),
3.
Aksi sosial (social action). Mengacu pada perspektif pengembangan masyarakat
yang dikembangkan Mayo, maka pengembangan masyarakat lokal dan perencanan
sosial masuk dalam perspektif profesional. Sedangkan aksi sosial termasuk
perspektif radikal (dalam Suharto 2010).
Tabel 1. Perspektif dan Model Pengembangan Masyarakat
Perspektif
|
Model
|
Tujuan / asumsi
|
Profesional
(Tradisional,
teknikal dan netral)
|
§ Pengembangan
masyarakat lokal
§ Perencanaan
sosial
|
§ Meningkatkan
inisiatif dan kemandirian masyarakat
§ Memperbaiki
pelayanan sosial dalam kerangka relasi sosial yang ada
|
Radikal
(transformasional)
|
§ Aksi sosial
|
§ Meningkatkan
kesadaran dan inisiatif masyarakat
§ Memberdayakan
masyarakat guna mencari akar penyebab ketertindasan dan diskriminasi
§ Mengembangkan
strategi dan membangun kerjasama dalam melakukan perubahan sosial sebagai
bagian dari upaya mengubah relasi sosial yang menindas, diskriminatif dan
eksploitatif.
|
Sumber : dikembangkan dari Suharto (2010).
Model pengembangan masyarakat lokal adalah sebuah proses yang
bertujuan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat melalui
partsipasi dan inisiatif anggota masyarakat. Pekerja sosial membantu
meningkatkan kesadaran dan mengembangkan kemampuan mereka dalam mencapai tujuan
yang diharapkan. Model ini berorientasi pada tujuan proses (process goal) dari pada tujuan tugas atau tujuan hasil.setiap
anggota masyarakat bertanggung jawab dalam menentukan tujuan dan strategi untuk
mencapai tujuan bersama. Proses pengembangan masyarakat lokal berbasis bottom up yang dibentuk dari
pengembangan kepemimpinan lokal, peningkatan startegi kemandirian, peningkatan
informasi, komunikasi, relasi dan keterlibatan anggota masyarakat. Atau
kegiatan yang berorientasi pada proses, tujuannya adalah memberikan pengalaman
belajar pada masyarakat, menekankan pentingnya konsesnsus/ kesepakatan,
kerjasama, membangun identitas, kepedulian dan kebanggaan sebagai anggota
masyarakat. Proses pengorganisasian masyarakat dapat optimal jika adanya
partisipasi masyarakat dalam menempatkan tujuan dan pelaksanaan tindakan.
Model perencanaan sosial adalah sebuah proses pragmatis yang
dilakukan dalam menentukan keputusan dan tindakan dalam memecahkan masalah
sosial tertentu seperti kemiskinan, pengangguran kenakalan remaja, buta huruf,
kesehatan yang buruk dan sebagainya. Perencanaan sosial berorientasi pada
tujuan tugas (task goal). Pekerja
sosial berperan sebagai perencana sosial yang memandang angota masyarakat yang
memiliki masalah sosial sebagai konsumen atau penerima layanan.
Penerima pelayanan dalam model ini dilibatkan dalam proses
pembuatan kebijakan, penentuan tujuan, dan pemecahan masalah tetapi tidak dalam
posisi utama karena sejatinya pengambilan keputusan dilakukan oleh para pekerja
sosial di lembaga formal baik pemerintah, swasta ataupun lembaga swadaya
masyarakat. Sehingga perencana sosial dinilai sebagai seorang yang ahli dalam
melakukan penelitian, menganalisis masalah, dan kebutuhan masyarakat, serta
dalam mengidentifikasi, melaksanakan dan mengevaluasi program pelayanan kemanusiaan.
Model aksi sosial adalah proses perubahan-perubahan
fundamental dalam kelembagaan dan struktur masyarakat melalui distribusi
kekuasaan (distribution of power),
distribusi sumber (distribution of
source), dan pengambilan keputusan (distribution
of decision making). Model ini dibangun dari asumsi bahwa masyarakat adalah
sistem klien yang menjadi korban ketidakadilan dalam struktur sosial.
Kemiskinan anggota masyarakat bukanlah karena anggota masyarakatnya melainkan
karena dimiskinkan secara sistim dan struktur, tidak berdaya karena tidak
diberdayakan oleh sekelompok orang yang menguasai sumber ekonomi, politik dan
kemasyarakatan. Model ini adalah kegiatan yang mempunyai tujuan mengadakan
perubahan menasar pada lembaga kemasyarakatan. Sasaran utamanya adalah penataan
kembali struktur kekuasaan, sumber-sumber dan proses pengambilan keputusan.
Kelemahannya :
1.
Locally Development, sulitnya mendapatkan
dukungan/ partisipasi apabila bukan berasal dari wilayah geografis yang sama.
2.
Sosial planning, membutuhkan tenaga ahli
teknis dari luar, membuat masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk memecahkan
masalah.
Model ini berorientasi pada tujuan proses dan tujuan hasil.
Pengembangan masyarakat dilakukan melalui penyadaran, pemberdayaan dan tindakan
aktual yang mampu mengubah struktur kekuasaan agar lebih memenuhi prinsip
demokrasi, pemerataan (equality) dan
keadilan (equity).
C.
Tahapan Pengembangan Masyarakat Kaitannya dengan Peningkatan
Kualitas Pendidikan
Sosialisasi
yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui :
a.
Tahapan
persiapan : Dialami sejak manusia dilahirkan Maksudnya seseorang anak
mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya anak-anak mulai melakukan
kegiatan meniru.
b.
Tahapan
meniru : Ditandai dengan semakin cocok atau tepat seorang anak menirukan
peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk
kesadaran tentang nama diri dan siapa orang tuanya, saudaranya. Anak mulai
menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu.
c.
Tahapan
Bertindak : Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh
peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran.
Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga
memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama.
d.
Tahapan
Penerima : Seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya
pada masyarakat secara laus.. Dia dapat bertenggang rasa, tidak hanya dengan
orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat secara luas.
Dalam
pengembangan masyarakat pasti memiliki beberapa tahapan-tahapan yang di
lakukan. Tahapan pengembangan masyarakat meliputi :
1.
Tahap
Persiapan Persiapan Petugas: Menyamakan persepsi antar anggota tim sebagai
pelaku perubahan (changeagent) tentang konsep dan metode yang akandigunakan.
Dilakukan pelatihan dan diskusikelompok petugas Persiapan Lapangan: Menentukan
lokasi/komunitas sasaran. Memenuhi persyaratanformal seperti perizinan ke
pimpinanformal/pemerintah. Pendekatan dengan tokoh-tokohmasyarakat (stake
holders).
2.
Tahap
Assessment Pengindetifikasian masalah (kebutuhan yangdirasakan) Masyarakat dan
potensi/modal masyarakat. Serta melakukan penilaian denganteknik SWOT atau
metode assessment PRECEDE-PROCEED Cara yang dapat ditempuh: melakukan in-depth interview,
wawancara individu, survey, Diskusi kelompok terarah (FGD).
3.
Tahap
Perencanaan Alternatif Program Mendiskusikan dengan masyarakat tentang permasalah
yang mereka hadapi dan bagaimana cara untuk mengatasinya. Menstimulus
pesertauntuk mengusulkan berbagai alternatif cara yang mungkin bisa ditempuh
untuk mengatasi masalah.
4.
Tahap
Formulasi Rencana Aksi Menentukan program atau kegiatan yang dipilih/disepakati
dari berbagai alternatif yang ada dengan pertimbangan prioritas.Pada tahap ini
jika diperlukan membuat proposalmaka pelaku perubahan dapat memfasilatasi dan membantu
peserta dalam penyusunan dan pengajuan proposal. Pada tahap ini sebisa mungkin
sudah dapat memberikan gagasan tentang tujuan jangka pendek yang akan dicapai.
5.
Tahap
Pelaksanaan Program Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah
disusun pada formulasi rencana aksi. Jika nanti dalam proses pelaksanaan diperlukansuatu
perubahan maka harus dengan kesadaran dan kesepakatan para peserta.
6.
Tahap
Evaluasi Proses dan Hasil Perubahan Mengukur perkembangan dan menilai hasil
yang diperoleh berdasarkan indikator yang telah ditetapkan. Hasil penilaian kemudian
digunakan untuk memperbaiki program. Apakah peserta benar-benar melakukan
tugasnya?Apakah kegiatan atau cara yang ditempuh sesuai/relevan? Apakah program
dapat dijangkau pihak-pihak yang membutuhkan? Apakah program yang dibuat
benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan masyarakat? Apakah sudah sesuai dengan
proporsi kebutuhan? Seberapa banyak upaya yang telah dilakukan untuk memaksimalkan
hasil? Efisien atau tidak? dampaknya bagaimana?.
7.
Tahap
Terminasi Perpisahan secara formal dengan sasaran. Ada dua alasannya: jika
tujuan sudah tercapai atau jika masa program memang sudah berakhir. Hubungan
secara informal biasanya tetap dilakukan .
Resosialisasi
adalah proses pemberian kepribadian baru kepada seseorang. Contoh : proses
pemasyarakatan yang dialami para penghuni penjara, rumah sakit jiwa, dan
pendidikan militer. Seorang yang semula bebas, karena melakukan pelanggaran
hukum kemudian dipenjara. Di penjara inilah terjadi proses pembentukan
kepribadian baru. Segala gerak-geriknya, cara berpakaian, waktu tidur, waktu makan,
dan aktivitas lainnya tidak lagi dapat dilakukan secara bebas. Semua diatur
berdasarkan norma penjara yang ketat dan tidak memberikan kebebasan. Demikian
juga, para peserta pendidikan dan pelatihan militer serta pasien rumah sakit
jiwa. Semuanya harus mengalami proses penyesuaian nilai dan norma baru secara
total.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Kesimpulan
Pengembangan masyarakat berasal dari konsep dasar “community” berarti kualitas hubungan
sosial dan “development” sebagai
perubahan yang dilakukan secara terencana dan gradual. Pada tahun 1957, PBB
memutuskan 10 prinsip-prinsip dasar pengembangan masyarakat yang bisa
diterapkan di seluruh dunia. Berbagai pendekatan pengembangan masyarakat
dilakukan sebagai upaya mencapai keberhasilan tujuan pengembangan masyarakat.
Model-model pengembangan masyarakat terdiri dari model
pengembangan masyarakat lokal, perencanaan sosial dan aksi sosial. Model
pengembangan masyarakat lokal dan perencanaan sosial termasuk dalam perspektif
profesional dalam pengembangan masyarakat. Sedangkan model aksi sosial termasuk
dalam perspektif radikal.
Dalam pengembangan masyarakat pasti memiliki beberapa
tahapan-tahapan yang di lakukan. Tahapan pengembangan masyarakat meliputi :
Tahap Persiapan Persiapan Petugas, Tahap Assessment Pengindetifikasian masalah
(kebutuhan yangdirasakan), Tahap Perencanaan Alternatif Program Mendiskusikan
dengan masyarakat, Tahap Formulasi Rencana Aksi Menentukan program, Tahap
Pelaksanaan Program Melaksanakan, Tahap
Evaluasi Proses dan Hasil Perubahan, Tahap Terminasi Perpisahan secara formal
dengan sasaran.
2.
Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah diatas
dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga
bisa untuk menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah
dijelaskan
DAFTAR PUSTAKA
Soekamto Soejono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:
Rajawali.
Ahmad Abu. 989. Pengantar Sosiologi. Solo: Ramadhan.
Harker Richard. 2005. (Habitus X Modal) + Ranah = Praktek. Yogyakarta: Jalasutra.
Moemeka,
A.A. 1989. Perspectives on Development Communication. Africa Media Review.Vol. 3, No.3, pp.
1-24.
Nasdian, FT. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta :
Kerjasama Dep. Sains KPM IPB dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Suharto, Edi. 2010. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat :
Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung : Refika Aditama.
Susanto,
A. S., 1977, Komunikasi Kontemporer, Bandung: Bina Cipta.
CR - 057 : Eka Wahyu Setyo Rini


Komentar
Posting Komentar