FILSAFAT PENDIDIKAN



MAKALAH
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM MENURUT IBNU KHALDUN
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan
Dosen Pengampu : Rosichin Mansyur, Drs. S

Oleh :
Istidamatul Iffah                      21501013046
Lailatul Musyarofah                21501013049
Eka Wahyu Setyorini               21501013050
Mumtaza Ulin Naela                21501013065
M. Fauzul Adzim                     21501013071

Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2018
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tak lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW, semoga kelak kita digolongkan orang-orang yang mendapat pertolongannya.
Diharapkan makalah ini mampu membantu pembaca khususnya mahasiswa dalam memahami filsafat Pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun.
Namun demikian penyusunan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari beberapa pihak, untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu  kami menyadari sepenuhnya bahwa masih adanya kekurangan dari segi penyusunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami bisa memperbaiki makalah ini.


Malang, Mei 2018



Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1
A.    LatarBelakang 1
B.     RumusanMasalah 2
C.    Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 4
A.    Biografi Singkat Ibnu Khaldun 4
B.     Konsep Pendidikan menurut Ibnu Khaldun 4
BAB III KESIMPULAN 29
Kesimpulan 29
DAFTAR PUSTAKA 30





BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran dari segala sesuatu secara mendalam, sistematik, radikal dan universal. Filsafat merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang mencoba menjawab persoalan-persoalan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan lainnya.
Pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, seksama, terencana dan bertujuan untuk yang dilaksanakan oleh pendidik dalam arti memiliki bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan menyampaikannya kepada anak didik secara bertahap.
Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul-Nya. Islam menjadikan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber dalam ajaran-ajarannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa filsafat Pendidikan Islam adalah kajian filosofis mengenai berbagai masalah pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam.
B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Biografi singkat tentang Ibnu Khaldun ?
2.      Bagaimana konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun ?

C.      Tujuan
3.      Mengetahui Biografi singkat tentang Ibnu Khaldun
4.      Menjabarkan konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Biografi singkat Ibnu Khaldun
Sebuah ciri khas yang melatar belakangi kehidupan Ibnu Khaldun adalah ia berasal dari keluarga politis, intelektual, dan aristokrat. Suatu latar belakang kehidupan yang jarang dijumpai orang. Keluarganya, sebelum menyebrang ke Afrika, adalah para pemimpin politik di Moorish, Spanyol, selama beberapa abad. Dalam keluarga elit semacam inilah ia dilahirkan pada tanggal 27 Mei 1332 di Tunisia. Oleh ayahnya ia diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd Ibnu Muhammad Ibnu Khaldun.
Latar belakang keluarga dan saat ia dilahirkan serta menjalani hidupnya nampaknya merupakan faktor yang menentukan dalam perkmbangan pemikirannya. Keluarganya telah mewariskan tradisi intelektual kedalam dirinya, sedangkan masa ketika ia hidup yang ditandai oleh jatuh bangunya dinasti-dinasti Islam, terutama dinastiUmayah dan Abbasiyah memberikan kerangka berpikir dan teori-teori ilmu sosialnya serta filsafatnya.
Sebagaimana para pemikir islam lainnya, pendidikan masa kecilnya berlangsung secara tradisional. Artinya, ia harus belajar membaca Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, sastra, dan Nahwu Sharaf dengan sarjana-sarjana terkenal pada waktu itu. Pada umur 20 tahun ia telah bekerja sebagai sekretaris Sultan Fez di Maroko.
Jatuhnya dinasti al-Muwahiddun telah mempengaruhi proses kehidupannya. Konflik dan perang saudara terjadi disana-sini. Suasana itu ditandai oleh terjadinya perebeutan kekuasaan diantara putra-putra mahkota dan tuan-tuan tanah yang menurut Isawi, kota-kotanya pindah dari kekuasaan tangan yang satu ke tangan yang lain dengan kecepatan yang mengherankan. Hasut menghasut, pembunuhan dan pemberontakan merupakan adegan yang biasa terjadi. Khaldun,meski sempat dipenjarakan 2 tahun, ia terpaksa hidup di tengah-tengah malapetaka itu.
Selanjutnya pada tahun 1.362 Ibnu Khaldun menyebrang ke Spanyol dan bekerja pada raja Granada. Di Granada ia menjadi utusan raja untuk berunding dengan Pedro, raja Granada, raja Castila, sedangkan di Sevilla, karena kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari oleh pengusa Kristen itu. Sebagai imbalannya, tanah-tanah bekas miik keluarga dikembalikan kepada Ibnu Khaldun. Tetapi Khaldun memilih tawaran yang sama dari raja Granada. Kesanalah ia memboyong keluarganya dari Afrika.
Khaldun tidak lama di Granada. Kecakapan dan prestasinya yang diperlihatkan selama itu telah menimbulkan iri hati Perdana Mentri. Itulah sebabnya ia kembali menyebrangi Gilbraltar untuk kembali ke Afrika, kemudian ia diangkat menjadi perdana menteri oleh Sultan Aljazair, Bongi. Namun, antara tahun 1.362-1.375 bukanlah masa tenang dalam kehidupan Khaldun. Pada masa itu pergolakan-pergolakan kekuasaan telah menyebabkan ia berganti tuan, kesetiaan dan tempat mengembara ke Maroko dan Spanyol, hidup dengan kabilah-kabilah Badui di Aljazair, dan beberapa kali memimpin pasukan tentara dalam medan pertempuran.
Ketenangan hidup baru ia jumpai setelah melepaskan semua jabatan resminya. Dan pada waktu itulah ia menciptakan karyanya yang monumental, yaitu Muqoddimah dan kitab Sejarah Alam Semesta. Setelah itu ia kembali ke Tunisia. Namun, oleh karena ia menghadapi masalah yang sama seperti yang dialami di Granada, maka ia memutuskan diri untuk naik haji. Dan pada tahun 1.382 ia pergi ke Iskandariah. Tetapi dalam perjalanan hajinya ia singgah di Mesir. Raja dan rakyat Mesir yang cukup mengenal reputasi Khadunlah yang telah menyebabkan ia tidak melanjutkan perjalanan hajinya. Di daerah ini ia ditawari jabatan guru kemudian ketua mahkamah agung dibawah pemerintahan Dinasti Mamluk.
Dengan jabatannya yang terakhir itu, ia bukan saja mengalami masalah sama seperti yang dihadapi di Granada dan Aljazair, tetapi juga telah menyebabkan ia kehilangan keluarga dan harta bendanya. Musibah semacam ini, di samping membuat ia semakin ta’at, juga telah membangkitkan kembali niat untuk menunaikan ibadah hajinya. Niat itu baru terlaksana tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1.387. Namun, untuk hidup tenang di Kairo setelah pulang haji tidak tercapai. Sebab, kemampuannya yang luas itu telang mengundang Sultan Mamluk untuk memanfaatkannya. Bersama-sama dengan hakim dan ahli-ahli hukum lainnya ia dibawa Sultan ke Damaskus, kota yang terancam gempuran tentara Timur Lenk. Damaskus tidak dapat dipertahankan dan Sultan bersama dengan tentaranya mundur ke Mesir.
Namun, Khaldun dan beberapa orang terkemuka lainnya tetap tidak pulang. Ia diserahi tugas berunding mengenai penyerahan kota itu ke tangan Timur Lenk. Di tangan Timur Lenk, Damaskus dihancurkan. Tetapi Khaldun berhasil menyelamatkan bukan hanya dirinya, melainkan juga beberapa orang terkemuka, anggota tim perundingan di Mesir. Di Mesir, ia tetap seseorang besar. Sebab tidak lama kemudian ia kembali pada jabatannya semula, sebagai ketua Mahkamah Agung. Ia meninggal pada tahun 1.406 dalam usia 74 tahun, bersama jabatan yang dipegangnya. Kini Ibnu Khaldun selain dikenal sebagai filosof, juga sebagai sosiolog yang memiliki perhatian yang besar terhadap bidang pendidikan. Hal ini antara lain terlihat dari pengalamanya sebagai guru yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

B.       Konsep Pendidikan menurut Ibnu Khaldun
1)        Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun merupakan kemampuan manusia untuk membuat analisis dan sintesis sebagai hasil dari proses berpikir. Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, Ibnu Khaldun membaginya menjadi tiga macam, yaitu :
a.    Ilmu Lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika) sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.    Ilmu Naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci Al-Qur’an dan tafsirnya, sanad dan Hadits yang pentashihannya serta istinbat tentang kaidah-kaidah Fiqih. Dengan ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia. Dari Al-Qur’an itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilmu Hadits, imu Ushul Fiqih yng dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah itu melalui cara istinbath.
c.    Ilmu ‘Aqli, yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya pikir atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk di dalam kategori ilmu ini adalah ilmu Mantiq (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku (Behavior) manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Mengenai ilmu nujum, Ibnu Khaldun mengangapnya sebagai ilmu yang fasid, karena ilmu ini dapat dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Hal itu merupakan sesuatu yang batil, berlawanan dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.
2)        Pendidik dan Peserta Didik
Ibnu Khaldun memandang usaha mendidik dalam aktivitas pendidikan sebagai salah satu pekerjaan yang memerlukn keahlian. Konsekuensi pandangan ini adalah bahwa untuk menjadi seorang pendidik, diperlukan beberapa kualifikasi tertentu. Untuk ini, Ibnu Khaldun menghendaki bahwa seorang pendidik harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan kerja akal secara bertahap. Ibnu Khaldun menganjurkan agar pendidik menggunakan metode mengajar yang bisa sesuai dengan tahap-tahap perkembangan peserta didik.
Pada tahap permulaan, pendidik tidak diperkenankan menyajikan materi pengetahuan yang sukar dipelajari peserta didik. Ini dapat membingungkan mereka. Sebab, kemampuan dan kesanggupan peserta didik untuk memahami suatu materi itu bersifat bertahap, sedikit demi sedikit (tadarruj). Pada sisi lain, Ibnu Khaldun memandang peserta didik sebagai yang belajar (Muta’alim) atau seorang anak yang perlu bimbingan (wildan). Dalam posisinya sebagai muta’allim, peserta didik dituntut mengembangkan segala potensi yang Allah anugerahnya kepadanya.
Ibnu Khaldun memandang peserta didik sebagai subyek didik, bukan obyek didik, yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui proses pendidikan. Ini menandakan bahwa Ibnu Khaldun memiliki pandangan yang optimisti terhadap peserta didik. Peserta didik bagi Ibnu Khaldun merupakan subjek didik yang dituntut kreativitasnya agar dapat mengembangkan diri dan potensinya. Perlakuan ini membuat pendidikan sebagai ajang atau wahana yang dapat menumbuhkan kreativitas peserta didik. Peserta didik sebagai subjek didik dituntut aktif dan kreatif dalam melakukan proses belajarnya.
3)        Tujuan Pendidikan
Fathiyyah Hasan Sulaiman dalam pandangan Ibnu Khaldun dan tentang ilmu dan pendidikan menyebutkan bahwa tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldu adalah :
a.    Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena aktivitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu, yang pada gilirannya kematangan individu ini bermanfaat bagi masyarakat.
b.    Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat yang membantu manusia agar dapat hidup dengan baik, dalam rangka terwujudnya masyarakat yang maju dan berbudaya.
c.    Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan.
Dari tujuan di atas, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa “ Pendidikan atau ilmu dan mengajar merupakan suatu kemestian dalam membangun masyarakat manusia. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa maksud pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentranformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalam untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Pendidikan adalah upaya melestarikan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, agar masyarakat tersebut bisa tetap eksis. Inilah kiranya tujuan utama pendidikan menurut Ibnu Khaldun. Dalam konteks ini, telah memandang pendidikan sebagai bagian dari proses peradaban manusia.
4)        Metode Pendidikan
Kepada peserta didik yang berada dalam  taraf wildan, Ibnu Khaldun menganjurkan agar ta’lim diberikan dengan metode al-Qurb wa al-mulayanah yang diterjemahkan Franz Rosenthal  menjadi kindly dan gently (kasih sayang dan lemah lembut) . Ibnu Khaldun menolak metode al-syiddah wa al-ghilzhah (kekerasan dan kekasaran) di dalam pengajaran wildan. Ibnu Khaldun menulis : “ hukuman keras berupa tindakan fisik di dalam ta’lim itu berbahaya bagi muta’alim, terutama bagi ashaghir al-walad (anak-anak kecil).
Adapun terhadap peserta didik muta’alim, Ibnu Khaldun menyarankan agar pendidikan dilakukan dengan metode yang memerhatikan kondisi peserta didik, baik psikis maupun fisik. Di sini, seorang pengajar “ harus memerhatikan kekuatan akal murid-muridnya dan kemampuannya untuk menerima sesuatu yang diberikannya”.
Secara lebih singkatnya Ibnu Khaldun mengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu : (1) prinsip pembiasaan,  (2) prinsip tadrij (berangsur-angsur), (3) prinsip pengenalan umum (generalistik), (prinsip kontinuitas), (4) memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik, (6) menghindari kekerasan dalam mengajar.
5)        Kurikulum Pendidikan
Dengan mengkritisi kurikulum pendidikan yang berlaku bagi kawasan Maghribi, Andalusia, Ifriqiyah, dan orang-orang timur, Ibnu Khaldun melalui pengalamnya memandang kurikulum yang ditawarkan Qadli Abu Bakar bin Al-‘Arabi sebagai kurikulum pendidikan yang baik (madzhab hasan). Ibn Al-‘Arabi menasihatkan agar kurikulum yang pertama kali diajarkan kepada peserta didik adalah matakuliah bahasa Arab dan Syair. Syair dan Filologi Bahasa Arab hendaknya diajarkan lebih dahulu, kemudian peserta didik melanjutkan belajar ilmu hitung secara terus menerus hingga mengenal rumus-rumus nya. Selanjutnya, diteruskan dengan mempelajari Al-Qur’an. Al-Qur’an jangan diajarkan di permulaan, karena hal ini akan membuat mereka membaca apa yang tidak dimengertinya, yang pada gilirannya akan sia-sia bacaannya. Setelah ini, baru peserta didik mempelajari prinsip-prinsip islam, seperti ilmu kalam, Fiqih-ushul Fiqih, ilmu Hadits, ilmu debat, dan ilmu-ilmu lainnya. Menurut Ibnu Khaldun, apa yang ditawarkan Ibnu Al-‘Arabi ini, yaitu tidak mendahulukan belajar Al-Qur’an, akan membuat mereka tidak mengalami keterputusan ilmu, karea mempelajari secara utuh. Alasan pendapat yang mendahulukan belajar Al-Qur’an adalah masalah berkah dan pahala Tuhan itu kurang tepat. Padahal, selama peserta didik tinggal di rumah, selama itu pula orang tuanya diberi otoritas untuk mengajarkan Al-Qur’an kepadanya.
Dari hal di atas, menurut Ibnu Khaldun, ada tiga kategori kurikulum yang perlu diajarkan kepada peserta didik. Pertama, Kurikulum yang merupakan alat bantu pemahaman. Kurikulum ini mencakup ilmu bahasa, ilmu Nahwu, ilmu Balaghah, dan Syair. Kedua, Kurikulum Sekunder, yaitu mata kuliah yang menjadi pendukung untuk memahami islam. Kurikulum ini meliputi ilmu-ilmu hikmah Falsafi, seperti Logika, Fisika, Metafisika, dan matematik, yang tergolong dalam al-ulum al-aqliyah. Ketiga, Kurikulum Primer, yaitu mata kuliah yang menjadi inti ajaran Islam. Kurikulum ini meliputi semua bidang al-ulum al-naqliyah, seperti ilmu Tafsir, ilmu Hadits, ilmu Qiro’at, ilmu Ushul Fiqih dan Fiqih, ilmu Kalam, Tasawuf dan lain-lain.   


BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Sebuah ciri khas yang melatar belakangi kehidupan Ibnu Khaldun adalah ia berasal dari keluarga politis, intelektual, dan aristokrat. Suatu latar belakang kehidupan yang jarang dijumpai orang. Keluarganya, sebelum menyebrang ke Afrika, adalah para pemimpin politik di Moorish, Spanyol, selama beberapa abad. Dalam keluarga elit semacam inilah ia dilahirkan pada tanggal 27 Mei 1332 di Tunisia. Oleh ayahnya ia diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd Ibnu Muhammad Ibnu Khaldun.
Konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun mencangkup 5 aspek diantaraya yaitu : ilmu pengetahuan (ilmu lisan, ilmu Naqli, dan ilmu Aqli), pendidik dan peserta didik, tujuan pendidikan, metode pendidikan, dan kurikulum pendidikan.





DAFTAR PUSTAKA

Suharto, Toto. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : AR-RUZZ Media. 2006
Rasyidin, Nizar Syamsul. Filafat Pendidikan Islam. Jakarta : PT. CIPUTAT PRESS. 2005.
Nata Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam 1. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. 1997

                                                        CR - 057 : Eka Wahyu Setyo Rini

Komentar

Postingan Populer