PROBLEMATIKA FIQH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Manusia memang terus berkembang dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat.Hal inilah yang mendorong manusia untuk terus belajar.Oleh NASUTION belajar diartikan sebagai menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.Definisi lain mengenai belajar dikemukakan oleh ERNEST H. HILGARD yaitu Belajar adalah dapat melakukan sesuatu yang dilakukan sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah sehingga lain caranya menghadapi sesuatu situasi dari pada sebelum itu.
Disetiap pembelajaran pasti ada sebuah tujuan untuk mencapai keberhasilan,dan disetiap keberhasilan pastilah ada sebuah problem dan ada sebuah solusi.maka disini kami akan sedikit membahas sebuah problem dan solusi dalam pembelajaran fiqih.
Dari pandangan-pandangan belajar dari beberapa ahli tersebut,munculah teori belajar.Teori belajar merupakan upaya  untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar,sehingga membantu kita semua memahami proses yang kompleks dari belajar.Oleh karena itu,makalah ini membahas beberapa teori belajar.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa saja problematika dalam pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah?
2.      Apa saja solusi dari problematika dalam pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah
3.      Apa saja teori-teori dalam belajar dan pembelajaran

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui problematika dalam pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah
2.      Untuk mengetahui solusi dari problematika dalam pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah
3.      Untuk mengetahui teori-teori dalam belajar dan pembelajaran





BAB II
PEMBAHASAN

1.      Problematika dalam pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah
a.       Definisi problematika
Menurut Munisu HW (2002:206) problematika adalah suatu istilah dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa inggris yaitu “problem”yang berarti persoalan atau masalah.sedangkan problematika berarti hal yang menimbulkan masalah,hal yang belum terpecahkan permasalahannya.
            Sedangkan menurut Tim Penyusun Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa dalam buku yang berjudul “Kamus Besar Bahasa Indonesia”,bahwa “Problem Adalah Masalah”,persoalan.KBBI (1989:701)
            Sudarsono (1997:187) menyatakan bahwa problem adalah kondisi atau situasi yang tidak menentu,sifatnya meragukan dan sukar dimengerti,masalah atau pernyataan yang memerlukan pemecahan masalah.
b.      Problematika dalam pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah
Dalam pelaksanaan pembelajaran fiqih perlu diperhatikan adanya faktor-faktor pendidikan yang ikut menentukan berhasil tidaknya pembelajaran tersebut.Maka makalah ini akan dibahas ada beberapa faktor yang menyebabkan problematika dalam pelaksanaan pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah antara lain:
ü  Faktor peserta didik
Setiap individu memang tidak sama,perbedaan individual ini yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan peserta didik dalam keadaan dimana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya,itulah yang disebut dengan kesulitan belajar.Kesulitan belajar ini tiadk selalu disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi.Dengan demikian IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.Ahmadi abu (2004:77).
Maka,kita harus mengetahui karakteristik siswa agar dapat memamahkan peserta didik.
ü  Faktor guru
Guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual.Merujuk pada sistem pengelolaan pembelajaran yang berbasis subjek (mata pelajaran),guru seharusnya memiliki kesesuaian antara latar belakang keilmuan dengan subjek yang dibina.Selain itu guru diharapkan memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran dikelas.Secara otentik kedua hal tersebut dapat dibuktikan dengan ijaza akademik dan ijaza keahlian mengajar (akta mengajar) dari lembaga pendidikan yang diakreditasi pemerintah.
Selain itu,guru juga harus mempunyai wawasan yang luas dalam memilih metode,strategi,media,pendekatan dan model dalam pembelajaran fiqih di madrasah yang sesuai mata pelajaran dan karakteristik peserta didik.Dalam pembelajaran fiqih,guru tidak hanya memberikan materi saja guru harus mempraktikkan langsung.Tidak mempraktikkan saat ujian saja,agar siswa dapat lebih memahami dan mengingatnya.

2.      Solusi dari problematika dalam pembelajaran fiqih di madrasah ibtidaiyah
Dari problematika yang telah dijabarkan diatas maka ada beberapa solusi yaitu:
§  Untuk guru haruslah memahami karakteristik peserta didik,haruslah memahami psikologis peserta didik
§  Untuk pengajar haruslah mempunyai wawasan yang luas dalam menyampaikan mata pelajaran kepada siswa
§  Guru harus mempunyai pemahaman metode,media,strategi,pendekatan dan model yang sesuai mata pelajaran dan karakteristik siswa
§  Guru harus mengajak peserta didik praktek langsung,tidak hanya memberikan materi

3.      Macam-macam teori dalam belajar dan pembelajaran
a)      Teori behavioristik
1.      Pengertian behavioristik
Aliran behasviorisme berpendapat bahwa berpikit adalah gerakan-gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat saraf dan otot-otot bicara seperti halnya bila kita mengucapkan buah pikiran (Purwanto,2002:45)
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner.teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
2.      Kelebihan dan kekurangan teori behavioristik
·         Kelebihan teori behavioristik
a.       Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan konsidi belajar.
b.      Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan mandiri.Jika menemukan kesulitan,baru dinyatakan kepada guru yang bersangkutan.
c.       Mampu membentuk suatu perilaku yang diinginkan mendapatkan penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif yang didasari pada perilaku yang tampak.
d.      Dengan melalui pengulangan dan pelatihan yang berkesinambungan,dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya.Jika anak sudah mahir dalam suatu bidang tertentu,akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang berkesinambungan tersebut dan lebih optimal.
e.       Bahan pelajaran yang disusun secara hirarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan tertentu mampu menghasilkan suatu perilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu
f.       Teori behavioristik cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa,suka mengulangi,dan harus dibiasakan,suka meniru,dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung(dalam http://ratgup.blogspot.com/2009/01.teori-belajar-behavioristik.html)
·         Kekurangan teori behavioristik
a.       Sebuah konsekuensi bagi guru untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap
b.      Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan teori ini
c.       Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif
d.      Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode ini yang paling efektif untuk menertibkan siswa
e.       Murid dipandang pasif,perlu motivasi dari luar,dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
b)      Teori konstruktivistik
1.      Pengertian teori konstruktivistik
Dalam konteks filsafat pendidikan,konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kosntekstual,yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbats dan tidak secara tiba-tiba.pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,konsep,atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (http://rifaikaryahoocoidparikesit.blogspot.com/2011/03/makalah-teori-konstruktivistik.html).
2.      Kelebihan dan kekurangan
·         Kelebihan
1.      Dalam proses membina pengetahuan baru, pembelajar berpiki untuk menyelesaikan masalah, menjalankan ide-idenya, dan membuat keputusan.
2.      Karena pembelajar terlibat secara langsung dalam membina pengetahuan baru, spembelajar lebih paham dan dapat mengaplikasikannya dalam semua situasi.
3.      Karena pembelajar terlibat langsung secara aktif, pembelajar akan mengingat semua konsep lebih lama.
4.      Pembelajar akan lebih memahami keadaan lingungan sosialnya yang diperoleh dari interaksi dengan teman dan guru dalam membina pengetahuan baru.
5.      Karena pembelajar terlibat langsung secara terus menerus, pembelajar akan pemahaman, ingat, yakin, dan berinteraksi dengan sehat. Dengan demikian, pembelajar akan merasa senang belajar dan membina pengetahuan baru (http;//warnadunia.com/teori-pembelajaran-konstruktivistik).
·         Kekurangan
·         Peran guru sebagai pendidik kurang mendukung.
o   Karena cakupnya lebih luas, lebih sulit dipahami. (http;//warnadunia.com/teori-pembelajaran-konstruktivistik)
3.      Implikasi teori konstruktivistik dalam pembelajaran
Dalam upaya mengimplementasiakan teori belajar konstruktivisme, Tyler mengajukan bebeapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran sebagai berikut.
·         Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.
·         Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
·         Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru.
·         Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa.
·         Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka.
·         Meciptakan lingkungan belajaran yang kondusif (http://surianto200477.wordpress.com/2009/09/17/teori-pembelajaran-konstruktivistik).


c)      Teori kecerdasan ganda/majemuk
Gardner mengembangkan proses pembelajaran dikelas yang memanfaatkan dan mengembangkan kecerdasan ganda anak, dengan harapan dapat digunakan anak diluar kelas dalam mengenali dan memahami realitas kehidupan. Namun sebelumnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak yakni salah satunya:
1.      Pembawaan
Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.
2.      Kematangan
Setiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
3.      Pembentukan
Segala keadaan di luar diri seseorang yang memengaruhi perkembangan kecerdasannya. Faktor pembentukan dapat dibedakan menjadi pembentukan sengaja (seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar)
4.      Minat dan Pembawaan yang Khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
5.      Kebebasan
Bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah
Maka dari itu kesulurahan pribadi turut serta dalam menentukan perbuatan intelegensi seseorang. Dan ada pula pokok-pokok pikiran untuk mengkonsep kecerdasan ganda ini yang dikemukakan Gardner adalah: 1) Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya, 2) Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula diajarkan kepada orang lain, 3) Kecerdasan  merupakan realitas majemuk yang muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia, 4) Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan satu kesatuan yang utuh Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan di dalam latar budaya tertentu. 
Penelitian Gardner mengidentifikasi ada 8 macam kecerdasan manusia dalam memahami dunia nyata, kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh lain dengan menambahkan dua kecerdasan lagi, sehingga menjadi 10 macam kecerdasan. Berikut kesepuluh kecerdasan tersebut, yaitu : 
1)      Kecedasan verbal/bahasa (verbal linguistic intelligence)
Kecerdasan ini yang berkaitan dengan semua hal tentang bahasa. Seperti, puisi, humor, cerita, tata bahasa, berpikir simbolik adalah ekspresi dari kecerdasan ini.
2)      Kecerdasan logika/matematik (logical mathematical intelligence)
Kecerdasan ini seperti berpikir ilmiah, termasuk berpikir deduktif dan  induktif.  Yang biasanya terjadi untuk menghadapi masalah atau tantangan baru.
3)      Kecerdasan visual/ruang (visual spatial intelligence)
Kecerdasan ini berkaitan dengan misalnya senirupa, arsitektur, permainan catur. Kuncinya kecerdasan ini adalah kemampuan indera pandang dan imajinasi.
4)      Kecerdasan tubuh/gerak tubuh (body/kinesthetic intelligence)
Kecerdasan tubuh mengendalikan kegiatan tubuh untuk menyatakan perasaan. Menari, permainan olahraga, pantomim, dan lain-lain
5)      Kecerdasan musikal/ritmik (musical/rhytmic intelligence)
Kecerdasan ini yang didasari perubahan kesadaran manusia banyak disebabkan musik dan ritme. Musik dapat menenangkan pikiran , memacu kembali aktivitas, dan semakin dapat memacu pikiran dalam belajar.
6)      Kecerdesan interpersonal (interpersonal intellgence)
Kecerdasan ini berhubungan dengan kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal dengan orang lain. Seperti mampu mengenali perbedaan perasaan, temperamen, maupun motivasi orang lain.
7)      Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence)
Kecerdasan ini mengendalikan pemahaman terhadap aspek internal diri, perasaan, proses berpikir, refleksi diri, intuisi, dan spiritual.
8)      Kecerdasan naturalis (naturalistic intelligence)
Kecerdasan ini banyak dimiliki oleh para pakar lingkungan, misalnya melihat gejala-gejala alam.
9)      Kecerdasan spiritual (spirituallist intelligence)
Kecerdasan ini banyak dimiliki oleh para rohaniwan yang berhubungan dengan Tuhannya.
10)  Kecerdasan eksistensial (exsistensialist intelligence)
Kecerdasan ini eksistensial banyak dijumpai pada para filusuf, yang mampu dan menghayati keberadaan dirinya di dunia dan apa tujuannya
Pada dasarnya manusia semua mempunyai kecerdasan seperti penjelasan di atas, namun individu sendiri perkembangannya sesuai pada tingkat yang sama yaitu yang paling menonojol sehingga dapat dilakukan secara efektif.Mengembangkan Kecerdasan Ganda dalam Kegiatan Pembelajaran Dimana mengembangkan kecerdasan ganda dalam kegiatan pembelajaran itu harus penuh pertimbangan karena sebagai intelegensi yang terlatih dan memiliki banyak pengalaman , yang tidak disebut talenta atau bakat. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam teori kecerdasan ganda, yaitu: 1) Setiap orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu; 2) Banyak orang dapat mengembangkan masing-masing kecerdasannya sampai ke tingkat yang optimal; 3) Kecerdasan biasanya bekerja bersama-sama dengan cara yang unik; 4) Ada banyak cara untuk menjadi cerdas.
Apabila ingin mengetahui arah kecerdasan siswa di kelas, dapat diketahui melalui indikator-indikator tertentu. Misalnya, apa yang dikerjakan siswa ketika mereka mempunyai waktu luang. Setiap guru dapat mengguanakan catatan-catatan kecil praktis yang dapat digunakan untuk memantau kecenderungan perkembangan kecerdasan anak. Berikut ini jenis-jenis dan kecenderungan anak belajar:
Jenis Kecerdasan
Kecenderungan /
Kegemaran
Metode Belajar
Bahasa / Verbal
Gemar :
        Membaca
        Menulis
        Bercerita
        Bermain kata
Membaca, menulis, mendengar
Matematis Logis
Gemar :
        Bereksperimen
        tanya jawab
        menjawawab teka-teki logis
Berhitung, aplikasi rumus, eksperimen
Spasial
Gemar :
        Mendesain
        Menggambar
        Berimajinasi
        Membuat sketsa
Observasi, menggambar, mewarnai, membuat peta
Kinestetik tubuh
Gemar :
        Menari
        Berlari
        Melompat
        Meraba
        memberi isyarat
Membangun, mempraktekan. menari, ekspresi
Musikall
Gemar :
        bernyanyi
        bersiul
        bersenandung
Menyanyi, menghayati lagu, mamainkan instrumen musik
Interpersonal
Gemar :
        memimpin
        berorganisasi
        bergaul
        menjadi mediator
Kerjasama dan interaksi dengan orang lain
Naturalis
Gemar :
        menyusun tujuan
        meditasi
        imajinasi
        membuat rencana
        merenung
Berfikir filosofi, analitis, berfikir reflektif

Gemar :
        bermain dengan flora fauna
        mengamati alam
        menjaga lingkungan
Observasi alamdan mengidentifikasi karakteristik flora dan fauna
Setiap anak didik pasti mempunyai tingkat kecerdasan yang berbeda-beda, maka dari itu guru harus banyak strategi umum maupun khusus dalam pembelajaran. Dalam hal pengukuran kecerdasan ganda kebih mengutamakan pada studi dokumentasi dan proses pemecahan masalah. Apabila kegiatan di atas dapat dilakukan maka keterampilan kognitif anak didik pun dapat berkembang dengan sendirinya.
d)     Teori pembelajaran humanistik
1.      Pengertian teori humanistik
Humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia.Pendekatan ini melihat kejadian,yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif.Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.Kemampuan positif erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif.Emosi adalah karakteristik yang sangat kuat yang tampak dari para pendidik beraliran humanisme.Thobroni (2015:133)
Humanistik ini tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka.Teori humanisme ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian,hati nurani,perubahan sikap,dan analisis terhadap fenomena sosial.Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Thobroni (2015:134)
2.      Implikasi teori belajar humanistik Thobroni (2015:149)
a.       Guru sebagai fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator.Cara ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa petunjuk berikut ini
o   Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal,situasi kelompok,atau pengalaman kelas.
o   Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan didalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum
o   Guru mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka
o   Guru menempatkan dirinya sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok
o   Guru haru tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menadakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
o   Didalam berperan sebagai seorang fasilitator,pimpinan harus mencoba mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasab dirinya.
ü  Proses yang umumnya dilalui dalam mpembelajarannya: Thobroni (2015:148)
        Merumuskan tujuan belajar yang jelas
        Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas,jujur,dan positif
        Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
        Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis,memaknai proses pembelajaran secara mandiri
        Siswa didorong bebas mengemukakan pendapat
        Guru menerima siswa apa adanya,berusaha memahami jalan pikirannya
        Memberikan kesempatan untuk maju sesuai dengan kecepatannya
        Evaluasi diberikan menurut prestasi siswa
3.      Kelebihan dan kekurangan teori humanistik Thobroni (2015:147-148)
a.       Kelebihan teori humanistik
1.      Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran bersifat pembentukan kepribadian,hati nurani,perubahan sikap,dan analisis terhadap fenomena sosial
2.      Indikator keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah,berinisiatif dalam belajar,dan terjadi perubahan pola pikir,perilaku,serta sikap atas kemauan sendiri
3.      Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas,tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan,norma,disiplin,atau etika yang berlaku.
Adapun kekurangan teori humanistik,yaitu siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar (http://www.perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/teori-belajar-humanistik.html)










BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1.      Dalam setiap proses pembelajaran pastilah ada sebuah problem dan solusi.salah satunya dalam pembelajaran fiqih,adapun problemnya dapat terjadi dari peserta didik seperti dari karakteristik atau psikologi yang berbeda pada setiap individu.yaitu kemampuan dalam menerima pembelajaran.dan dapat terjadi pula dari gurunya,yaitu pada kesalahan dalam memilih metode,media,strategi,pendekatan dll.ataupun juga kurangnya wawasan guru terhadap mata pelajaran serta memilih metode,media,strategi,pendekatan dll.
2.      Solusinya guru harus memahami karakteristik dan psikologi siswa,serta guru harus berwawasan luas dan memilih pembelajaran sesuai kemampuan siswa.
3.      Dalam teori pembelajaran dapat diringkas sebagai berikut:
·         Teori behavioristik: perubahan tingkah laku,seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan ouput yang bersifat respon. Asri Budiningsih (2012:30)
·         Teori konstruktivistik : Teori konstruktivisme merupakan teori belajar yang menuntut siswa mengkosntruksi kegiatan belajar dan menstransformasikan informasi kompleks untuk membangun pengetahuan secara mandiri dan inisiatif. Asri Budiningsih (2012:64)
·         Teori kecerdasan ganda atau majemuk : Kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan di dalam latar budaya tertentu. Setiap peserta didik memiliki kesebelas kecerdasan, Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori, Peserta didik pada umunya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai.
·         Teori humanistik : teori humanistik memiliki tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.Dengan kata lain,siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal.Teori humanistik cenderung bersifat ekletik,maksudnya teori ini dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai. Asri Budiningsih (2012:78)




DAFTAR PUSTAKA
Budiningsih Asri. 2012. BELAJAR & PEMBELAJARAN. Jakarta:Rineka Cipta.
Thabrani M. 2015.BELAJAR & PEMBELAJARAN. Yogyakarta:AR-RUZZ MEDIA





Komentar

Postingan Populer